Tag Archive: Humor


KETIKA LAKI-LAKI BERBOHONG

Seorang penjual minyak goreng keliling seperti biasa menjajakan dagangannya di tepian Sungai Citarum.

“Nyak nyak minyaaaaaaaaaaaaak” , teriaknya.

Di jalanan menurun tiba-tiba gerobaknya yang penuh dengan botol minyak tergelincir ke Sungai Citarum.

Plung … lap … tenggelam deh tuh gerobak …gtw ceritanya

Huuuuu … huuuu …. menangislah dia …. “Harus kuberi makan apa istriku nanti … huuu…”

Tiba-tiba … seorang Malaikat yang baik hati muncul dan bertanya :

“Hai, BAJURI … kenapa gerangankah sehingga engkau menangis begitu ?”

Ternyata … namanya BAJURI … tahu juga ya itu Malaikat ….

“Oh, Malaikat … gerobak minyak goreng saya tergelincir ke sungai ….”

“Baiklah … aku akan ambilkan untukmu ….”

Baca lebih lanjut

Iklan

KADO ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Seorang laki-laki ingin bersikap manis kepada istrinya pada ulang tahun perkawinan mereka yang ke-10.
“Kau boleh memilih,” katanya. “Dibelikan sehelai mantel bulu atau jalan-jalan ke Paris.”
“Oh, menyenangkan sekali,” kata istrinya. “Mari kita jalan-jalan ke Paris saja, sebab kudengar di sana harga mantel bulu lebih murah.”

ILMU STATISTIK TIDAK BOHONG

Seorang guru mengajarkan pengenalan tentang ilmu statistik kepada murid-muridnya
Guru: “Ingat ya, statistik itu tidak bohong. Contohnya, jika dua belas orang dapat membangun sebuah rumah dalam 1 hari, satu orang dapat membangun rumah yang sama dalam 12 hari. Kalian paham yang kumaksud?””
Murid-murid: “Maksud guru berarti jika satu perahu dapat mengarungi satu samudera dalam 6 hari, enam perahu dapat mengarungi samudera dalam sehari?”
Guru: #$$$%%%^$&&

Baca lebih lanjut

Keledai Membaca

Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,

“Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya.”

Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.

“Demikianlah,” kata Nasrudin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”

Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?”

Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

“Tapi,” tukas Timur Lenk tidak puas, “Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?”

Nasrudin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?”

Baca lebih lanjut

Abu Nawas dan Alat untuk Berzina

Suatu ketika Abu Nawas datang ke hadapan Amirul Mu’minin seraya membawa kendi yang biasa digunakan untuk menyimpan khamr (minuman keras). Melihat hal ini, Amirul Mu’minin berseru kepada pengawalnya, ”Cepat cambuk Abu Nawas sebagaimana orang yang telah minum khamr.”

Abu Nawas protes berat.

“Yaa Amirul Mu’minin, mengapa saya dihukum cambuk, padahal saya tidak minum khamr?” protes Abu Nawas.

“Itu karena kamu membawa kendi yang biasa digunakan untuk minum khamr,” jawab Amirul Mu’minin.

“Jika memang demikian, maka hukum saya dengan hukuman cambuk sebagaimana orang yang berzina, ”sahut Abu Nawas.

“Mengapa demikian? ”tanya khalifah.

“Karena saya juga membawa alat yang biasa digunakan untuk berzinah, ” jawab Abu Nawas.

Mendengar jawaban Abu Nawas, khalifah tertawa…lalu membebaskan Abu Nawas dari segala hukuman dan memberikan uang sebagai hadiah.

Baca lebih lanjut

Bego , Otak , Mati

       Pada suatu hari ada 3 sahabat karib layaknya saudara mereka bermain bersama , jalan-jalan bersama sampai-sampai warna kolorpun sama mereka  adalah si Bego, si Otak, si Mati

Suatu ketika mereka ingin bermain petak umpet,

Bego    : “ Woy kita maen petak umpet yukk…!!

Otak    : “ Yuk….”

Mati     : “Ayo…..”

   Akhirnya mereka memulai permainan mereka , tapi sebelum meraka bermain mereka melakukan gambreng.

Bego    : “ Gambreng dulu yukkk…!!

Mati     : “ Tak nanti gambrengnya warna putih yahh!!”. Bisik Mati kepada Otak

Otak    : “ Mang napa?”

Mati     : “ Si Begokan kulitnya hitam jadi walaupun di membuka telapak tangannya tetap aja hitam”

Otak    : “ Iya-iya….!!”

Bego    : “ Ayo mulai jangan bisik-bisik mulu dari tadi ….!!”

Mati     : “ Iya ayo…!”

Otak    : “ Ayo…!”

    Merekapun memulainya “ Hompimpa alaihim gambreng..”. Akhirnya si Begopun berhasil terperangkap oleh si Otak dan Si Mati maka jagalah Si Bego.”

Baca lebih lanjut