Tag Archive: Cerita Pendek


Surat Terakhir Untuk Nadya

Malam yang sangat gelap. Awan hitam tebal menggumpal-gumpal di atas langit. Hujan lebat tidak kunjung reda. Nadya yang berada di dalam kamar membuka jendela perlahan-lahan. Tepat di lantai 10 sebuah gedung apartemen. Angin berhembus membelai rambutnya yang terurai panjang.

Ia melihat tetesan air hujan seperti jarum-jarum yang menusuki perut bumi. Air matanya menetes ketika ia mengingat Lutfi, kekasihnya sekaligus pangeran baginya. Ia ingat ketika lutfi mengajaknya menari-nari di sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga. Menyanyikan lagu-lagu cinta bertaburkan suka cita.

Baca lebih lanjut

Iklan

SELEMBUT CINTA CITRA

Ini adalah pertama kalinya saat aku bertemu dengan seseorang yang benar-benar sempurna dalam hidupku, yang bisa membuatku merasakan kenikmatan dalam melakukan berbagai hal yang membosankan, yang bisa menghapuskan segala rasa gundah dan putus asa dalam diri, dan yang selalu mengerti dan memahami apa yang telah terjadi dalam hidupku yang penuh dengan dilema.

Sebelumnya aku hanya mahasiswi biasa yang hanya melakukan aktifitas belajarku di kampus. Mungkin bisa dibilang aku hanya menggugurkan tugasku yang menumpuk hingga aku mual untuk mengerjakannya satu persatu. Aku selalu dianggap dosen sebagai mahasiswi yang tidak tahu akan jati dirinya sebagai pemudi bangsa yang menghargai bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan. Dalam benakku, aku hanya berpikiran kalau tugas-tugas jurusan biokimia hanya bisa mengantarku sampai jenjang pendidikanku selesai seluruhnya dan tidak untuk membuatku sukses di masa depan. Tapi, demi membuat orang tuaku bahagia dengan keinginan mereka, aku hanya mengikuti apa adanya. Walhasil, aku hanya bisa menganga tak jelas karena pelajaran yang tidak familier dengan diriku sendiri yang sangat ingin sekali menjadi seorang insinyur.

Baca lebih lanjut

Kelas 4A

Pelangi Hysteria….

Berawal dari peristiwa sebelum rihlah, wakil ketua kelas yang bernama Anisa Istiqomah atau orang sering memanggilnya Istiq sedangkan di rumah ia biasa dipanggil Annisa mengusulkan ide yang cemerlang untuk membuat rasa persatuan kelas menambah kuat, yaitu dengan mengajukan diadakannya SR (Sahabat Rihlah). Aturannya adalah setiap pasangan harus berlomba-lomba untuk menjadi pasangan terso-sweet atau terkompak, hal yang pertama dilakukan Istiq adalah menulis nama semua anak cewek di bukunya dengan nomor kemudian Istiq meminta masing-masing dari anak cowok untuk memilih nomor , setelah itu Istiq membacakan hasil dari pilihan anak cowok yaitu sebagai berikut:

· Romli & Istiq

· Harry & Elna

· Edo & Gholi

· Zaka & Atul

· Omen & Ulfah

· Ichi & Tsa2

· Zaki & Hanthal

· Krezno & Dephe

· Iqbal & Nur

· Iip & Gita

· Ardhi & Ain

· Iskandar & Windy

· Rayi & Sri

· Jamal & Cintiadi

· Ali & Mutoharoh

Baca lebih lanjut

Candaan Keterlaluan

Bercanda, hal yang pernah dilakukan oleh setiap orang di dalam kehidupannya , baik itu anak-anak maupun orang tua. Hidup tanpa bercanda tak asyik, tak berwarna hidup ini. Begitulah pendapat para masyarakat terhadap hal tersebut dan tak jauh dari pendapat anak kelas X.A . Aku adalah salah seorang anggota kelas X.A, setiap harinya kuwarnai hari-hariku di dalam kelas bersama teman-temanku dengan keseriusan dalam belajar, candaan, dan tawaan. Karena candaan adalah salah satu cara untuk menghilangkan kebosanan kami dalam memahami setiap pelajaran yang ada. Walaupun candaan suatu hal yang halal untuk dilakukan tapi kami terkadang menyalahgunakan hal tersebut atau bisa saja aku katakan keterlaluan.

Candaan yang kami buat terkadang membuat keadaan kelas menjadi kacau-balau, berisik, berkelahi, saling ejek-mengejek, adu mulut dan lain-lain. Kadang membuat diantara kami kesal dengan perbuatan kami atau tak sedikit para dewan guru bahkan wali kelas pun jengkel dan kesal terhadap kelas X.A. Wali kelas kami marah dan jengkel terhadap kami karena mendengar laporan dari beberapa dewan guru tentang kami ketika mengikuti pelajaran.

Baca lebih lanjut

PMB (Panitia Makan Baso)

Tengah hari ini, pondok pesantren seakan membara. Matahari berpijar di tengah-tengah petala langit seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-menjilat bumi. Tapi, semua itu tidak membuatku malas untuk masuk kelas karena aku harus belajar, apalagi sekarang jam pelajaran kelima . Waktu sebentar lagi untuk beristirahat.

Ketika aku melangkah ke kelasku yang berada di ujung Ulul Albab 201. Terdengarlah suara yang sudah akrab di telinga memanggil ku, saat ku menoleh benar juga, si pemilik suara itu, Ain, sahabatku. Dia berteriak memanggilku dengan suara yang lantang .

“Atul, kita makan yuk aku lapar banget nih! seru Ain

“Ayo! Aku mengiakan ajakannya. Aku juga lapar banget nih tapi kita tunggu saja sampai makan siang sedikit lagi juga pulang”. Di tengah-tengah pelajaran, Mutoharoh menyebarkan selembar kertas yang berisi pengumuman ajakan.

Baca lebih lanjut

Foto Presiden

Jam pelajaran ke-6, jam pelajaran yang begitu membosankan bagiku. Jam pelajaran tepat pada pukul 14.00 WIB, siang yang cukup membakar. Badanku terasa disengat bara api yang begitu panasnya. Siang ini matahari menumpahkan tenaganya yang maha dahsyat. Namun tak sedikit pun menghalangi langkahku menelusuri koridor-koridor kelasku. Kuhempaskan badanku yang terasa terbakar, cucuran keringat membanjiri tubuhku hingga kukipas-kipas bukuku. Hem, segar!

Entah berapa lama tanganku terus mengibas-ngibaskan buku pelajaranku ini. Sampaiku terhenti saat mataku terpaku pada sebuah bingkai foto yang terpampang di dinding kelasku. Foto yang seakan-akan tersenyum padaku. Kutatap semakin jelas senyum itu seolah padaku. Aku merasakan sesuatu yang aneh padaku. Aku merasa damai dan sejuk ketika kutatap foto itu. Suhu ruang kelasku yang tadi terasa panas kini berubah dingin dan sejuk.

Baca lebih lanjut

Depresi Murid X.A

” Hua…” salah satu murid X.A menguap karena rasa kantuk yang amat sangat.

” Tidur yuk, tidur…” kata kami serempak.

Hari kamis memang hari yang membosankan, capek dech rasanya. Ah…! pokoknya gak enak dech. Apalagi kalo udah ketemu pelajaran yang gak mengasyikan, batinku dalam hati.

###

Semilir angin yang masuk melalui celah-celah ventilasi memanjakan mataku hingga tertutup rapat. Gorden di jendela pun ditutup hingga ruangan gelap gulita. Karena memang biasanya pelajaran Fisika belajar menggunakan fasilitas LCD dan laptop, jadi agar pelajaran terlihat lebih jelas, gorden harus tertutup rapat.

Guru fisika, Pak Ismu, memasuki kelas dengan langkah semangat 45. Berbanding terbalik dengan keadaan kelasku, murid X.A, tak ada diantara mereka yang tak merasakan kantuk dan malas untuk memulai pelajaran.

” Ya, sekarang ambil laptopnya!” Perintah Pak Ismu menyuruh murid bernama Mutho mengambil laptop.

” Maaf, Pak! Laptop saya sedang di-install.” kata Mutho jujur.
Baca lebih lanjut

Adakah cinta sejati,selain cintanya seorang Ibu kepada anaknya ?

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sehabis makan, akupun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersunggut-sungut.

Kini aku telah dewasa, aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang isteri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih Ibu, karena engkau aku menjadi isteri yang baik dari suamiku dan Ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-kanak, Ia yang mengantarku hingga masuk kedalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari Jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, baik panas terik matahari maupun hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel sekolah berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, Bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, Aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Baca lebih lanjut

Hari yang ku jalani di dalam kelas ku tercinta ini, sungguh membingungkan. Hanya berharap, semua dapat bersatu, semua dapat merasakan satu sama lain. Saling menghargai, sehingga timbulah keharmonisan di dalam kelas ku ini.Namun, itu hanyalah sebuah impian belaka dalam fikiran kami. Setelah satu masalah selesai, masalah yang lain pun tiba. Hingga tak bosan-bosannya kami merasa tak betah berada di kelas.

Hingga akhirnya, sepuluh bulan telah kita lalui bersama, telah kita rasakan bersama dan terjalinlah kisah kasih senang dan duka diantara anggota kelas ku ini, kelas 4 A (HYSTERIA). Tepat pada bulan maret yang lalu, terjadi rusuh yang tak jelas, akibat dari pada sebuah acara kelas yakni, KRITIKAN. Sampai suatu waktu, aku mengambil alih kelas sesaat di depan kelas.

“Iskandar, kenapa?koq diam aja di kelas? ada masalah dengan kelas?”, Tanya diriku kepadanya dengan rasa penasaran.

“Enggak! enggak kenapa-kenapa! kenapa gitu?”, tanyanya heran kepada ku.

“Terus, kenapa diam aja? apa gara-gara kritikan yang kemaren?”, Tanya ku kembali pada dirinya.

“Enggak! Lagi pula ngapain sih anak cowok ngambek gara-gara kritikan doang! enggak etis banget!”, Jawabnya dengan suntuk.

Baca lebih lanjut

4 SAHABAT

Dimulai pada pagi hari yang cerah nan indah, inilah hari pertama bagiku masuk ke Senior High School setelah lulus dari SMP dengan Predikat Baik, Pagi itu setelah melaksanakan shalat shubuh Aku mempersiapkan alat-alat tulis sekolahku dengan lengkap dan teliti, setelah semua selesai Aku pamit kepada kedua orang tuaku untuk melangkah menuju lembaran kehidupan yang baru. Dengan mengucapkan kalimat basmalah aku melangkahkan kakiku untuk pergi mencari ilmu yaitu disekolahku.

Aku sampai disekolah tepat pada saat bel masuk berbunyi, ini adalah hari pertama bagiku dan seluruh Siswa SMA Daar El-Qolam . Aku masuk ke dalam kelasku dan aku baru saja melihat pemandangan yang asing bagiku, aku merasa sedikit canggung karena belum ada satupun dari teman-temanku yang aku kenal .

Akupun pergi beranjak ke tempat duduk, aku memilih duduk di barisan kedua paling pojok, akupun berkenalan dengan teman sebangkuku yaitu Muhammad Asyrof Muzakki atau sering dipanggil dengan JackBox. Tidak tahu kenapa, akupun langsung akrab dengannya mungkin karena ada sifat diantara kami yang sama. Bapak Guru pun masuk dengan mengucapkan salam dan memperkenalkan dirinya, namanya adalah Pak Ade Sensei, beliau adalah Wali Kelas kami yaitu kelas 4D Excellent Class Program. Pak Sensei menyuruh Murid-muridnya untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. Sekarang tiba giliranku untuk memperkenalkan diri, Aku maju dengan penuh berani dan percaya diri kemudian memperkenalkan diriku dengan lengkap. Dari perkenalan itu semua siswa mulai akrab satu sama lain.

Kisah dari seorang santri Daar el Qolam

Terima Kasih telah berkunjung, Silakan tinggalkan komentar jika ada Kritik & Saran !!!