Surat Terakhir Untuk Nadya

Malam yang sangat gelap. Awan hitam tebal menggumpal-gumpal di atas langit. Hujan lebat tidak kunjung reda. Nadya yang berada di dalam kamar membuka jendela perlahan-lahan. Tepat di lantai 10 sebuah gedung apartemen. Angin berhembus membelai rambutnya yang terurai panjang.

Ia melihat tetesan air hujan seperti jarum-jarum yang menusuki perut bumi. Air matanya menetes ketika ia mengingat Lutfi, kekasihnya sekaligus pangeran baginya. Ia ingat ketika lutfi mengajaknya menari-nari di sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga. Menyanyikan lagu-lagu cinta bertaburkan suka cita.

Namun sekarang semua sirna. Takdir Tuhan memisahkan dia dengan Lutfi. Lutfi terkena leukemia dan akhirnya meninggal. Masih teringat ketika ia tersungkur diatas tubuh Lutfi yang sudah tak bernyawa diiringi alunan firman-firman Allah. Setelah itu Laura mencoba memanjat jendela itu. Ia ingin melupakan dan mengakhiri kesedihan ini. Sejenak ia melihat kebawah.

“Ma’afkan aku Tuhan atas semua ini. Aku tidak sanggup lagi menahan sakit ini”.

Ketika ia ingin melompat, Tok..! tok…tok…!!. “asalamu’alikum, Nadya”. Teman satu flat nya, Rahman mengetuk pintu.

“Iya…sebentar!” Nadya segera menuju pintu sambil menghapus air matanya.

“Kak Rahman! Ada apa? silahkan masuk”.

“Tidak terima kasih, saya hanya ingin menyerahkan surat ini”.

“Dari siapa kak?”

“Surat ini dari Lutfi. Ia menitipkannya pada saya setelah ia tahu bahwa ia terkena leukemia. Ma’af yah saya pulang dulu sudah larut malam”.

“Terima kasih kak”.

Kemudian Nadya membacanya.

Assalamu’alaikum.

Untuk kekasihku Nadya.

Ma’afkan aku Nadya. Aku harus pergi meninggalkanmu, meninggalkan semua kenangan kita. Aku tahu ini begitu menyakitkan terutama bagimu. Namun apa daya Tuhan sudah berkehendak. Aku harus pergi. Satu pesanku untukmu. Kamu harus berjanji untuk tetap hidup walaupun tanpa diriku. Untukku, demi aku.

Wassalamu’alaikum.

Lutfi Airlangga.

Nadya menangis sejadi-jadinya. Hingga terdengar oleh Rahman yang kamarnya dekat dengan kamar Nadya. Segeralah Rahman menuju kekamar Nadya dan mencoba menenangkannya.

“Nadya, kamu harus tabah agar Lutfi tenang di sana”.

“Terima kasih kak, tauhkah kak karena surat ini saya tidak jadi bunuh diri”.

“Subhanallah Nadya, Itu berarti Allah sangat sayang padamu, begitu pula Lutfi, dia pasti lega kamu tidak jadi bunuh diri.

“Aku pulang dulu yah, kamu harus tidur sudah larut malam”.

Setelah itu Rahman pergi ketika Nadya mulai tenang. Kemudian Nadya menemukan satu pesan di balik surat itu.

Aku senang kamu dekat dengan Rahman. Sepertinya dia pria yang baik.

Hujan mereda. Nadya pun tidur dalam indahnya mimpi hingga ia tersenyum ketika ia tidur.

Posted By fajrydzhilly

Sumber Tak diketahui !!!