SELEMBUT CINTA CITRA

Ini adalah pertama kalinya saat aku bertemu dengan seseorang yang benar-benar sempurna dalam hidupku, yang bisa membuatku merasakan kenikmatan dalam melakukan berbagai hal yang membosankan, yang bisa menghapuskan segala rasa gundah dan putus asa dalam diri, dan yang selalu mengerti dan memahami apa yang telah terjadi dalam hidupku yang penuh dengan dilema.

Sebelumnya aku hanya mahasiswi biasa yang hanya melakukan aktifitas belajarku di kampus. Mungkin bisa dibilang aku hanya menggugurkan tugasku yang menumpuk hingga aku mual untuk mengerjakannya satu persatu. Aku selalu dianggap dosen sebagai mahasiswi yang tidak tahu akan jati dirinya sebagai pemudi bangsa yang menghargai bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan. Dalam benakku, aku hanya berpikiran kalau tugas-tugas jurusan biokimia hanya bisa mengantarku sampai jenjang pendidikanku selesai seluruhnya dan tidak untuk membuatku sukses di masa depan. Tapi, demi membuat orang tuaku bahagia dengan keinginan mereka, aku hanya mengikuti apa adanya. Walhasil, aku hanya bisa menganga tak jelas karena pelajaran yang tidak familier dengan diriku sendiri yang sangat ingin sekali menjadi seorang insinyur.

Suatu hari, aku mendapat tugas dari dosen untuk mencari referensi yang dibutuhkan untuk paper research. Dengan terpaksa, aku harus pergi ke perpustakaan umum yang letaknya lumayan jauh dari rumahku, mungkin dengan perkiraan naik bus dua kali ditambah dengan penyeberangan jalan bagi pejalan kaki layaknya diriku. Orang tuaku masih belum membolehkanku untuk mengendarai kendaraan roda empat di usiaku yang sudah belia ini, dengan alasan karena hanya akulah anak semata wayang mereka, dan ditambah lagi dengan alasan yang lebih sakral karena aku adalah anak perempuan dan tidak boleh bepergian ke tempat yang jauh sebelum aku punya seorang suami, atau minimal pasanganku sebelum naik ke pelaminan.

Kepergianku ke perpustakaan memang suatu hal yang sangat tidak kuharapkan. Aku sangat ingin sekali bersantai sejenak merebahkan seluruh pikiranku yang rumit ini. Akan tetapi, pendidikan memang sangat dibutuhkan, aku harus menjalani semua hal ini dengan ikhlas, pasti ada jalan keluar dibalik semua ini. Setelah perjalanan yang cukup panjang dan memakan sekitar dua jam, aku dihadapkan dengan perpustakaan umum GARYA ABADI. Aku sangat mengharapkan sekali kalau aku bisa merasa tenang dan nyaman di tempat yang sangat asing bagiku ini.

Satpam penjaga pintu perpustakaan dan angin sepoi-sepoi dari AC pintu menyambutku dengan sedikit manis. Ku tengadahkan wajahku tegak dan ku mantapkan langkahku menuju kasir sebentar untuk bertanya letak buku yang akan ku cari. Awalnya aku agak sedikit canggung bertanya di tempat yang baru pertama kali ku kunjungi, tapi pada akhirnya penjaga kasir tersebut mengarahkanku untuk beranjak pergi menuju blok D, blok yang berisi seluruh buku-buku bioteknologi yang akan ku pinjam. Setelah mengucapkan terima kasih kepada penjaga kasir tersebut, ku langkahkan kakiku menuju blok D sembari mengecek waktu yang terpampang di jam tanganku.

“Sedikit lebih baik.” Mataku segera bergerak menjelajahi seluruh nama-nama buku tersebut sesampainya di blok D. Dengan keinginan yang sangat terpaksakan, ku ambil buku-buku yang akan ku pinjam dan ku bawa buku-buku itu sejenak menuju ruang baca untuk ku periksa.

Sungguh berat rasanya hati ini untuk menerima segala apa yang telah terjadi dalam diriku, tapi mau bagaimana lagi aku harus siap akan semua ini. Perpustakaannya sungguh sangat besar hingga aku sungguh letih untuk berjalan menuju ruang baca.

Hampir dua menit selama perjalananku menuju ruang baca yang ada di perpustakaan itu, mataku mulai sayup dan pikiranku sudah terbawa ke mana-mana, aku tidak tahu akan hal itu, mungkin hanya faktor letih. Hingga tanpa ku sadari, aku menabrak seorang pria yang berbadan agak tinggi, mungkin jika dibandingkan tinggiku tepat berada di samping telinganya, lalu raut wajahnya yang sungguh tampan dan pipinya yang agak tembem membuat auranya semakin jelas untuk ku rasa. Sejenak aku termenung melihat wajahnya yang indah itu, tapi dia kembali menyadarkanku dan minta maaf karena dia tak sengaja menabrakku.

“Maaf ya, aku gak sengaja. Mungkin akunya saja yang ngelamun.” Katanya dengan sopan. Aku masih terfokus dengan matanya yang memancarkan pesona keindahan itu. “Maaf, kamu lagi dalam kondisi sadar kan?” Akhirnya, dia membantuku berdiri dengan memegang tanganku dengan tangannya yang penuh dengan keromantisan.

“Oh ya maaf, enggak kok aku yang salah. Tadi aku ngelamun pas jalan dan gak ngeliat kalo ada orang lagi jalan, maklum lagi error.” Jawabku dengan canggung. Hatiku berdegup kencang, hingga aku sangat takut kalau jantungku akan copot meskipun itu sungguh hal yang sangat mustahil.

“Enggak apa-apa kok. Oh ya, kenalin namaku Rio.” Dia menjulurkan tangannya untuk menjabat tanganku. Tanpa disadari pipiku memerah dengan sendirinya.

“Ah…Eh…Oh, namaku Citra. Aku baru pertama kali ke perpustakaan ini, gara-gara ada tugas dari dosen aja harus nyari referensi buat paper research.” Aku tersenyum-senyum sendiri. Entah perasaan senang apa sekarang yang sedang melanda diriku ini.

“Namamu bagus juga ya.” Rio memujiku sembari berpikir sejenak.

“Makasih.” Aku mulai tersipu malu.

“Ehmm…ngomong-ngomong, buku-buku kamu gak diambil.” Matanya tertuju ke arah buku-buku pinjamanku yang telah berserakan di atas lantai.

“Uppss.” Aku terkejut dan kemudian mengambil semua buku yang berserakan di lantai. Sejenak ia membantu mengambilkan buku-bukuku.

“Biar ku bantu ya.” Suara lembutnya merasuk ke dalam telingaku hingga membuatku terus menerus ingin tahu tentang isi hidupnya.

Buku-bukuku terlalu banyak, hingga ketika aku ingin mengambil buku terakhir yang terjatuh, tangan Rio pun menyentuh tanganku dengan sangat tidak sengaja. Aku terdiam sejenak dan kemudian menarik kembali tanganku.

“Maaf ya, aku bener-bener gak sengaja.” Jawabku refleks.

“Gak apa-apa kok. Bisa dimaklumi, ini bukumu.” Kemudian, ia berdiri dan menyerahkan buku yang telah ku pinjam. “Aku seneng kita bisa kenalan disini dan mungkin kita bisa saling ngobrol dan saling tukar pikiran. Gimana?” Ia tersenyum dan menaikkan bahunya sedikit untuk berusaha meyakinkanku kalau aku akan menerima tawarannya.

“Dengan senang hati, ini kartu namaku.” Ku serahkan kartu namaku untuknya sambil tersenyum.

“Trims, ini kartu namaku juga. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya? Tentunya kalau ada waktu luang.” Ia serahkan kartu namanya padaku dan menatapku sejenak. “Maaf aku harus pergi, sampai jumpa ya.” Ia melambaikan tangannya padaku sejenak kemudian berpaling menuju tempat parkir.

Ku kira aku telah merasa puas menjalani aktifitasku hari ini. Semuanya telah ku jalani dengan suatu kerelaan yang berarti ketika bertemu dengan laki-laki itu. Rasanya lelaki itu telah memberikanku semangat hidup yang baru dan rasa ceria dalam hati. Sungguh aku sangat ingin tahu banyak tentang dirinya. Aku sungguh bisa merasakan aura yang terpancar dalam dirinya menggambarkan aura kedamaian yang akan selalu ia bagikan untuk orang yang ia sayangi. Sekarang, aku bertekad untuk terus bersemangat dalam melakukan apapun, berjanji tidak mengecewakan orang tuaku, dan bersikap sopan terhadap siapapun. Semua ini ku lakukan hanya karena CINTA.

Esok paginya, aku punya misi penting yang benar-benar harus ku kerjakan, membantu dosen dalam pembagian karateristik agrikultur agar aku bisa lebih meyakinkan dosen bahwa sebenarnya aku sama aktifnya dengan orang-orang kepercayaan dosen lainnya. Aku niatkan dalam hati untuk menempuh targetku ini agar dapat berjalan dengan lancar.

Keramaian lalu lintas mulai tampak di jalan raya ketika aku mencoba untuk memanggil taksi agar berpapasan denganku. Setelah dapat, aku segera masuk ke dalam taksi dan menenangkan diriku sebelum sampai di kampus.

Kehadiranku di kampus tak semata-mata karena aku adalah orang yang kurang pergaulan. Lia menghampiriku dengan berbagai dokumen file yang ia kepit di tangannya. Ia meyunggingkan senyumnya sejenak dan kemudian bertanya padaku.

“Hei Cit, gimana kabarmu? Tumben, kayaknya kamu semangat gitu deh.” Ia menghamparkan tangannya ke atas bahu kananku sambil mengecek kedua mataku. Aku hanya bisa menyunggingkan senyuman untuknya.

“Enggak ah, biasa aja kok. Aku hanya ingin berubah, aku udah males jadi orang males.” Aku tertawa kecil dan kemudian menyenggol badannya.

“Ya iyalah Cit. Siapa juga yang mau jadi orang males, entar masa depannya suram. Ngomong-ngomong kok kamu biasa berubah drastis gini sih, pasti ada someone ya di balik semua ini yang bisa buat kamu bahagia dan mengerjakan segala sesuatu dengan semangat.” Rayunya dengan menunjukkan ekspresi mukanya yang genit.

“Apa-apaan sih, enggak aku hanya ingin berubah doang. Kenapa sih? Udah mendingan kita langsung masuk kelas aja, daripada diomelin dosen. Pilih mana?” Ancamku.

“Ok, tapi entar lama kelaman pasti ketahuan.” Ia mengarahkan telunjuknya ke arah mukaku.

“Terserah deh.” Aku segera berpaling dari hadapannya dan ia segera mengejarku dari belakang untuk pergi bersama-sama menuju kelas Bioteknologi.

Aku sudah berada di dalam ruangan belajar sekarang, kelas Bioteknologi. Aku telah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk memperlancar kegiatan penelitian nanti. Meskipun terkadang aku masih terlalu canggung untuk menikmati suasana belajar yang benar-benar serius. Akan tetapi, setelah waktu yang berlangsung cukup lama aku berhasil melakukan penelitian dengan baik dan seketika dosen mengacungkan kedua jempolnya terhadapku, begitu pun dengan Lia yang tersenyum dan mengajakku ke kantin untuk makan siang.

Siang itu memang begitu terik bagiku. Hampir sekujur tubuhku bisa merasakan sengatan matahari yang dipancarkannya secara radiasi. Aku hanya menikmatinya dengan santai dan Lia menaktrirku semangkuk baso dan teh botol. Aku merasa lebih baik sekarang.

Hari ini memang begitu indah. Aku berpisah dengan Lia di depan gerbang kampus dan aku menunggu sejenak adanya taksi yang berpapasan denganku. Aku termenung dan berpikir akan sesuatu, tak lama setelah itu seseorang menegurku tepat berada di depanku.

“Hai, kita ketemu lagi ya.” Rio menegurku dengan suaranya yang semerdu kicauan burung. Jantungku terasa berdebar-debar tak menentu. Aku mencoba untuk berpikir positif dan menanggapinya dengan biasa.

“Eh Rio, apa kabar? Kok, kamu bisa kesini sih, maksudku kamu bisa tahu kalau aku kuliah disini.” Balasku dengan senyuman.

“Ehmm, aku cuman iseng-iseng aja jalan, terus aku ngeliat kamu keluar dari kampus ini. Daripada gak ada kerjaan, mending aku menghampirimu itu lebih baik. Gimana kuliahnya, lancar?”

“Iya, lumayan.”

“Kebetulan, kamu mau mampir makan gak biar kamu gak usah makan malam lagi, gimana?” Ia menawarkan sesuatu yang terasa sangat spesial bagiku. Aku tak menyangka kalau baru pertama kali bertemu dan aku sudah diajak makan bersamanya.

“Kalau tidak keberatan sih.” Aku melirikkan mataku sedikit dan kemudian menyipit sambil berusaha tersenyum.

“Tentu tidak, kamu adalah orang yang paling baik yang pernah ku kenal. Ya sudah ayo naik, keburu malam entar gak enak loh!” Akhirnya, ia mengambil helm miliknya dan helm yang lain ia berikan kepadaku.

“Trims.” Kataku sambil naik ke atas motornya.

“You`re welcome.” Ia tersenyum dengan berbagai keindahan yang terpancar dari berbagai sisi.

Ku habiskan waktuku sore itu untuk menikmati makan bersama orang yang baru pertama kali kukagumi dan membuatku semangat dalam melakukan berbagai kegiatan. Ia berbagi cerita denganku mengenai sesuatu yang sangat ingin sekali ia capai, sekolah di luar negeri. Aku terkejut setelah mendengar impiannya yang begitu tinggi dan benar-benar berbeda dengan impian yang ku inginkan, seorang insinyur teknologi.

Perbincangan yang indah itu pun telah berakhir. Aku sempat kecewa awalnya, tapi aku yakin di hari-hari yang akan datang aku masih bisa bertemu dengannya.

Hari-hari yang sungguh panjang telah kulalui dengan biasa saja. Aku sudah lama tidak mendengar kabar tentangnya, meskipun aku telah mengirimkan SMS ataupun menghubunginya, akan tetapi tetap saja non aktif. Aku sempat bersesal hati hingga akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi Lia dan berharap dia bisa membantu.

Lia sedang menyiram bunga-bunga yang ada di pekarangan saat itu. Aku menghirup napas lega saat kukira dia sedang tidak ingin jalan-jalan. Akhirnya, aku pun menghampirinya dan mengadu tentang semua sesalku.

“Ehmm, hai Lia.” Sapaku ramah.

“Eh, Citra. Ya ampun aku gak tahu kalau kamu ingin kesini. Gimana kabarnya? Kamu gak bolos lagi kan?” Tanyanya pelan.

“Enggak kok Lia, aku ke sini cuma mau curhat aja sama kamu. Aku lagi kehilangan seseorang.” Sesalku sambil mengutak-atik tali bajuku.

“Oh ya, kalau begitu duduk, aku ambil minum dulu ya.” Ia menaruh alat penyiram bunganya dan bergerak masuk ke dalam rumah. Aku duduk di sofa teras rumahnya. Beberapa saat kemudian, ia datang dengan membawa dua gelas sirup ABC.

“Gak usah repot-repot kali Li.” Tegurku merasa tak enak hati.

“Biasa aja kali, biar enjoy aja.” Ia menaruh kedua sirup iru di atas meja dan mengelap tangannya dengan lap kering yang tergeletak di atas meja. “Jadi, kamu mau curhat apa? Katanya kamu ngerasa kehilangan gitu?” Wajahnya belum memunculkan ekspresi yang aneh bagiku.

“Iya, kurang lebih tiga Minggu kemarin aku bertemu dengan seorang cowok di perpustakaan jakarta. Itu pun gara-gara tabrakan, karena buku-buku yang aku pinjam pada jatuh semua, dia nolongin aku. Hari berganti hari aku semakin mengenal dia, dan ketika keluar dari kampus, ia sempat menghampiriku dan saat itulah hatiku mulai merasa hal yang berbeda dari sebelumnya. Aku kira aku telah mengalami hal yang indah.” Jelasku dengan menunjukkan muka yang sedikit menunduk.

“Oh gitu, berarti kamu tuh lagi kena demam cinta.”

“Ah masa, aku gak percaya sama yang kayak gituan.” Mataku menyipit.

“Nih, aku punya buku yang bakalan membuatmu percaya.” Akhirnya ia beranjak memasuki kamarnya dan ketika ia kembali, sebuah buku diary bersampulkan hello kitty telah ada di genggamannya. “Ini bukunya, kamu hayati benar-benar kata demi kata.” Ia memberikan bukunya kepadaku dan menunjukkan lembar yang harus ku baca.

Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.!!!
Cinta dimulai dengan sebuah senyuman. Bertumbuh dengan sebuah ciuman. Dan berakhir dengan sebuah tetesan air mata.
Hanya perlu waktu semenit untuk menaksir seseorang.
Sejam untuk menyukai seseorang.
Sehari untuk mencintai seseorang.
Tetapi, diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.
Bermimpilah tentang apa yang kamu impikan.
Pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi.
Jadilah seperti yang kamu inginkan.
Karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang kamu inginkan.

Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

Setelah membaca rangkaian-rangkaian kata dalam buku tersebut, hatiku terdetak luluh dan mataku sempat berkaca-kaca karena makna yang tersirat sungguh begitu indah.

“Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?” Tanya Lia meyakinkanku. Matanya penuh dengan keyakinan yang nyata.

“Ya, kurasa begitu. Aku harus lebih tegar lagi untuk menunggu saat-saat yang tepat. Trims, you`re my best friend.” Ku peluk sahabat terbaikku itu dengan penuh kelembutan.

“Sama-sama Citra.” Ia tersenyum.

Akan ku ingat kata-kata itu dan ku rasakan dengan hatiku yang turut menghayati akan itu. Semilir angin menghantarkanku ke tempat yang begitu indah untuk melihat sun set di waktu senja, jembatan kota.

Jakarta masih menimbulkan suara-suara bising yang membuat kepalaku pening. Aku ingin sekali cepat-cepat menghampiri jembatan tersebut. Sesampainya di ujung jembatan, ku hirup napas panjang agar badanku cepat berelaksasi dengan sempurna. Aku bergegas menuju ke tepi jembatan dengan langkah yang pasti. Aku termenung sejenak dan tanpa kusadari, aku telah meneteskan air mata.

Sunset-nya indah ya, sayang aku gak bisa merasakannya lebih dalam.” Aku tersentak sejenak ketika mendengar suara yang indah itu melesat melewati telingaku. Dan ketika kulihat, Rio telah berada tepat di sampingku. Tanpa terasa, hatiku berdebar-debar begitu kencang. Aku tak bisa menahan diriku untuk lepas pada saat itu.

“Eh Rio, kok kamu bisa di sini?” Aku terkejut dan menghapus air mataku dengan tergesa-gesa.

“Aku hanya ingin melihat sun set di tempat yang nyaman. Mengapa sun set itu bisa seindah wajahmu?” Ia tampak merayu dengan tatapan yang pasti ke arah sun set yang sebentar lagi terbenam.

Aku terkejut mendengar jawaban itu. Seketika, mukaku memerah dan aku tak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. “Maksudmu apa?”

“Aku kira kamu sungguh cantik kalau kamu tampak heran seperti itu.” Pandangannya mulai tertuju kepadaku. Hatiku semakin kencang untuk berdetak.

“Masa, kamu jangan coba untuk merayuku deh.” Jawabku pelan. Aku sangat tidak ingin ada orang yang merayuku dan seketika ia mencampakkanku begitu saja.

“Kamu masih gak percaya ya?” Ia menunjukkan muka keyakinannya. Tanpa kusadari ia telah melangkahkan kakinya ke arahku dan memelukku begitu erat. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, tubuhku lumat seketika dan aku memang telah dibuat tak berdaya olehnya. Auranya serasa menyatu dengan auraku, aku tidak mengira di waktu senja ini ada orang yang benar-benar menyayangiku. “Aku sayang banget sama kamu. Gak tahu kenapa, tapi kamu serasa membuat diriku hidup.” Ia tersenyum lebar dan melepaskan pelukannya.

“Aku gak nyangka kamu berbuat seperti ini sama aku.”

“Aku gak tahu kenapa, aku selalu mikirin kamu. Ah…eh….” Tiba-tiba, ia serasa canggung berada di dekatku. “Mungkin, ini yang namanya cinta.”

“Oh ya…” Aku sungguh heran sekali, tapi pada akhirnya aku tertawa kecil.

“Cit, aku….aku su….aku suka sama kamu.” Omongannya terdengar terbata-bata. Aku kembali melanjutkan tawaku. “Kok kamu malah tertawa sih. Jadi, bagaimana jawabanmu?” Tegasnya dengan muka yang terlihat mengharap.

“Eh…” Aku masih berpikir sejenak meskipun aku tahu kalau aku juga mempunyai rasa yang sama dengannya. “Ehmm…aku juga sama kok.” Jawabanku terdengar pasti.

“Yang benar.” Wajahnya berseri-seri setelah mendengar jawabanku. “Jadi, kamu mau gak jadi pacarku?”

“Iya, aku mau karena aku yakin kamu pasti bisa ngejagain aku kapan pun dan di manapun aku berada.” Aku menjawab dengan tersenyum. Senyuman yang kuberikan hanya untuk Rio seorang.

“Thank’s Citra.” Ia tersenyum dan memegangi tanganku untuk melihat sun set bersama.

Hari-hari yang indah telah kulalui dengan keindahan yang belum pernah kurasa. Ku habiskan waktuku untuk berbagi cerita dengannya, pergi ke toko buku ketika pulang dari kampus, dan kukenalkan dia kepada keluargaku agar Ayah dan Ibuku bisa menerimanya apa adanya. Aku menjadi semakin bahagia berada di sampingnya, aku sangat tidak ingin kehilangan dirinya. Akan tetapi, takdir Allah tak dapat disanggahkan lagi. Rio jarang kelihatan sekarang. Setiap kali ku telepon ponselnya, itu selalu tak aktif. Hatiku menjadi semakin galau.

Hari demi hari mulai kulalui dengan kesedihan yang nyata. Aku tak habis pikir Rio bisa menghilang begitu saja dari ku di waktu wisuda yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Hingga pada akhirnya aku mendapat kabar bahwa Rio sedang dirawat di rumah sakit dan kondisinya sedang koma. Setelah wawancara yang cukup lama dengan dokter, ternyata Rio terkena serangan jantung hingga jantungnya semakin lemah dan harus dirawat dengan berbagai peralatan medis.

Aku sungguh tak bisa menahan air mata yang terus menetes semenjak aku duduk di ruang tunggu bersama orang tua Rio. Kesedihanku semakin nyata ketika aku mendengar perkataan dokter bahwa nyawa Rio sudah tidak dapat ditolong lagi.

“Apa?” Aku berteriak di ruangan itu dan menangis. Hatiku terasa seperti teriris oleh silet yang benar-benar tajam, sakit…sakit sekali. Aku tak akan mungkin bisa meluapkan rasa sedihku ini.

Hari pemakaman telah datang. Aku hanya bisa mengantarkan jenazahnya sampai TPU(Tempat Pemakaman Umum), mataku berkaca-kaca dan aku sungguh sangat sedih. Tak ada yang bisa menjagaku lagi selain Allah yang menciptakan diriku. Tapi, bagaimanapun juga tak ada lagi yang cocok untuk berada di sampingku selain dirinya seorang, Rio yang memancarkan aura keindahan dan membuat seluruh jiwaku serasa aku sedang berada dalam mimpi indah yang nyata.

Tubuhnya telah tertimbun oleh tanah. Aku harus tegar dalam menghadapi semua ini, meskipun memang air mataku telah jatuh bercucuran terlalu lama. Lia berada di sampingku untuk menenangkanku sampai selesai proses pemakaman. Setelah semua orang telah pergi, aku meratapi diriku di samping kuburannya. Lia masih berada di sampingku sambil mengusap bahuku.

“Sudah Cit, gak usah menangis lagi. Aku yakin dia pasti bahagia di alam sana, karena Allah akan selalu bersamanya atau mungkin Rio akan melihat kekasihnya sedang melakukan sesuatu yang membuat hatinya senang. Jadi, jangan menangis lagi ya!” Lia menasihatiku dengan penuh kelembutan persahabatan yang takkan pernah padam.

Aku masih menahan tangisku. “Rio, baik-baik ya. Aku janji kok aku gak bakal jadi orang malas lagi. Aku akan menjadi perempuan yang rajin yang pernah Rio miliki.” Lagi-lagi aku menangis sedalam-dalamnya.

Apalagi yang harus kulakukan, aku hanyalah manusia biasa. Akhirnya, aku pulang bersama Lia membawa kenangan-kenangan lama yang pernah kujalani dengan Rio.

Sesampainya di rumah, aku beranjak menuju kamarku dan kurebahkan diri di atas kasur. Kali ini aku tak menangis lagi, akan tetapi aku teringat akan saat-saat yang pernah kulalui ketika pertama kali aku bertemu dengannya.

Denganmu sepiku kan berganti

Berganti keindahan yang belum pernah kurasa

Gemuruh gelora di jiwaku

Taklukan keraguan dan ketakutan hatiku

Selamat datang cinta

Di hatiku kusambut hadirmu

Berikan aku cinta

Rahasia kehidupan

Tanpa engkau cinta aku buta

Kau cahaya hati…. Cinta tak pernah salah dalam memilih.

Aku sangat mencintai dirinya. Dialah yang dapat membuatku bangkit dari segala yang aku benci. Dialah yang membuatku bahagia ketika aku termenung sejenak memikirkan masa depanku. Dan dialah yang membuatku merasakan keindahan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku hanya bisa berharap kalau dia bisa mendengarkan dan melihatku bahwa aku akan selalu ada untuknya.

Hujan deras mulai turun dan membasahi seluruh kawasan taman bungaku. Aku hanya mengintip dari balik jendela dan mengamati betapa tenangnya rintik-rintik hujan yang mengali dari atap rumah daripada hujan deras yang langsung turun dengan kasarnya. Entah aku yang salah dalam pandanganku, tapi Rio ada untukku di ujung taman, melambaikan tangannya dan menyentuhku dengan hatinya yang mempunyai berjuta-juta kelembutan. Aku tersenyum sejenak dan sangat ingin sekali menghampiri dirinya. Dengan tergesa-gesa, aku melangkahkan kakiku menuju teras rumah, akan tetapi Rio telah menghilang dibalik derasnya hujan. Lagi-lagi, aku meneteskan air mataku dan meluapkan kesedihanku di kamar.

Hari pelepasan telah tiba dan menurutku ini adalah hari yang telah kunantikan. Aku ditunjuk oleh dosen untuk mengucapkan pidato sambutan di depan semua teman-temanku. Aku rasa aku sudah harus merasa siap dalam menghadapi semua ini dengan sikap mandiri dan tidak manja.

Kehadiranku di sekolah sudah tak diragukan lagi kalau aku tampak nervous dan begitu gugup, tapi Lia menenangkanku dan membuatku menjadi lebih rileks. Tepuk tangan para wisudawan dan wisudawati begitu juga para orang tua meramaikan aula kampus saat itu. Tiba saatnya aku untuk menyampaikan pidatoku dan berharap agar semuanya berjalan dengan dengan lancar.

Aku telah berdiri di atas podium dan kutegapkan diriku. Dua menit telah berlangsung dan aku telah sampai pada isi dari sambutanku, akan tetapi terjadi sesuatu yang sangat aneh dengan pandanganku. Aku merasa bahwa aku melihat Rio sedang duduk dan melihatku di kursi belakang, tepat di pojok. Aku terdiam sejenak, dan tentu saja itu mengacaukan semua isi pidatoku. Hingga pada akhirnya, dosen menegurku untuk meneruskan kembali pidatoku hingga selesai.

Seusai pidato, aku mencari-cari Rio di sekeliling aula tapi tidak ketemu. Akhirnya, aku meneteskan air mata dan memandang ke arah luar dari jendela tanpa diketahui oleh siapa pun. Ternyata Rio masih ada untukku, untuk menjaga dan melindungiku. Aku masih bisa merasakan kehangatan jiwanya melalui angin sepoi-sepoi seketika aku membuka kaca jendela. Aku tidak tahu pasti apa yang dia lakukan di alam sana, tapi yang jelas dia akan selalu ada dan menemaniku, bukan di sampingku melainkan di dalam hatiku yang paling dalam.

Quote Cinta Citra

Posted & Edited By fajrydzhilly