Candaan Keterlaluan

Bercanda, hal yang pernah dilakukan oleh setiap orang di dalam kehidupannya , baik itu anak-anak maupun orang tua. Hidup tanpa bercanda tak asyik, tak berwarna hidup ini. Begitulah pendapat para masyarakat terhadap hal tersebut dan tak jauh dari pendapat anak kelas X.A . Aku adalah salah seorang anggota kelas X.A, setiap harinya kuwarnai hari-hariku di dalam kelas bersama teman-temanku dengan keseriusan dalam belajar, candaan, dan tawaan. Karena candaan adalah salah satu cara untuk menghilangkan kebosanan kami dalam memahami setiap pelajaran yang ada. Walaupun candaan suatu hal yang halal untuk dilakukan tapi kami terkadang menyalahgunakan hal tersebut atau bisa saja aku katakan keterlaluan.

Candaan yang kami buat terkadang membuat keadaan kelas menjadi kacau-balau, berisik, berkelahi, saling ejek-mengejek, adu mulut dan lain-lain. Kadang membuat diantara kami kesal dengan perbuatan kami atau tak sedikit para dewan guru bahkan wali kelas pun jengkel dan kesal terhadap kelas X.A. Wali kelas kami marah dan jengkel terhadap kami karena mendengar laporan dari beberapa dewan guru tentang kami ketika mengikuti pelajaran.

Hal tersebut terkadang membuat kami sadar bahwasanya candaan kami sudah keterlaluan , namun tak disangka ternyata kami sulit untuk mengubahnya, tiap kali kami ingin diam ada saja celotehan yang membuat kami tertawa sampai terkadang kami malah mengejek dan memojokannya salah seorang dari teman kami.

“Ya, ampun kejam sekali kami”. Itulah kalimat yang sering kami katakan di dalam hati kami. Namun kami tetap saja tak pernah sadar ,terkadang kepasrahan yang ada dalam hati kami untuk mengubah kelas X.A menjadi kelas yang lebih baik . Kami bersyukur sekali mempunyai wali kelas yang sangat sabar untuk membimbing kami agar menjadi lebih baik, seburuk apa pun perbuatan kami beliau tetap memaafkan kami , hati terkadang terketuk untuk meminta maaf dan berpikir untuk mengubah semuanya menjadi lebih baik.

Waktu terus berputar, perlahan lahan kami mulai sadar akan pentingnya keseriusan dalam belajar. Sedikit demi sedikit kami kurangi candaan kami dalam mengikuti pelajaran. Alhamdulillah, kami bisa melakukannya, kemudian mulailah kami mengerti apa itu persahabatan yang sejati, yaitu tidak membuat sakit hati sesama, saling membantu dan saling memberi perhatian. Kami sadar bahwa warna kehidupan itu tidak hanya didapat dengan candaan dan tawaan tapi kita bisa dan dengan tali persahabatan dan kebersamaan.

Warna warni kehidupan tak hanya datang dari diri kita sendiri namun kita akan menemukan warna itu dari kebersamaan antara kita dan teman-teman kita.

Kisah Seorang Santriwan Daar el Qolam 2 “Ardy Ardiansyah

Terima Kasih telah berkunjung, jangan lupa like sama votenya yah,,, ikuti juga blognya ckckck