PMB (Panitia Makan Baso)

Tengah hari ini, pondok pesantren seakan membara. Matahari berpijar di tengah-tengah petala langit seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-menjilat bumi. Tapi, semua itu tidak membuatku malas untuk masuk kelas karena aku harus belajar, apalagi sekarang jam pelajaran kelima . Waktu sebentar lagi untuk beristirahat.

Ketika aku melangkah ke kelasku yang berada di ujung Ulul Albab 201. Terdengarlah suara yang sudah akrab di telinga memanggil ku, saat ku menoleh benar juga, si pemilik suara itu, Ain, sahabatku. Dia berteriak memanggilku dengan suara yang lantang .

“Atul, kita makan yuk aku lapar banget nih! seru Ain

“Ayo! Aku mengiakan ajakannya. Aku juga lapar banget nih tapi kita tunggu saja sampai makan siang sedikit lagi juga pulang”. Di tengah-tengah pelajaran, Mutoharoh menyebarkan selembar kertas yang berisi pengumuman ajakan.

”Siapa yang mau makan baso tulis namanya masing-masing”. perintah Mutoharoh, ia adalah ketua PMB (panitia makan baso). Aku, Ulfah , Ain, Leni, Rizka, Istiq, Sri, Tsa, Vina, kami pun bergabung di PMB.

”Siapa yang ingin makan baso harap datang ke saung dan membawa mie masing-masing” seru Mutoharoh. Kami memang master baso, karena kami sangat suka makan bakso. Yeah, walaupun hanya sepulung terigu saja, kami tetap suka dengan bakso pondok ini.

Dzuhur pun telah tiba, aku bersiap-siap untuk makan bakso tetapi kita tentunya sholat berjamaah terlebih dahulu. Sesampai di masjid, PMB meneruskan rencana mereka untuk nanti.

“Eh, teman-temanku nanti langsung pergi ke saung yah! Aku kasih waktu sepuluh menit sehabis sholat ini.

“Iyah..!” seru kami dengan kompak.

Sholat dzuhur pun telah usai, aku melihat wajahnya Istiq dan Riska sedang sedih.

“Riska, Istiq kamu kenapa tampaknya wajah kamu sangat sedih?” tanyaku penuh rasa heran.

“Atul, aku kayaknya gak bisa ikut soalnya tumpukan cucianku banyak banget”.

“Atul, Riska juga gak bisa ikut. Aku kangen makan ayam, sekarang kan makan dengan ayam,” Riska dan Istiq membatalkan janjinya.

“Ya, sudah kalau kalian tidak bisa, tidak apa-apa”. Waktu pun telah tiba 10 menit sehabis sholat, aku menuju ke kamar Tsa .

“Tsa kamu jadi ikut gak?”

“Aku jadi ikut Atul, tunggu aku sebentar ya!” kata Tsa. PMB pun memesan enam mangkok bakso, kita menikmati suap demi suap di saung. Di tengah-tengah asyiknya makan, Ulfah menghentikan suapan lahap kami dengan pertanyaannya.

“Eh, teman-teman ngerasa nggak kalau kelas kita tuh beda banget suasananya?”.

“Iyah, betul!”seru kami.

Gita pun menjelaskan semua masalah yang terjadi di X.A. Kita semua memikirkan pemecahan masalah ini.

“Eh, teman-teman udahlah! Ntar juga masalahnya selesai nggak usah diributin kali.” Tapi bagaimana pun itu kelas kita, harus diselesaikan masalah ini.

Bel pun telah berbunyi kita semua masih bingung dengan masalah ini tapi kita tidak memedulikan sementara dengan masalah itu. Nikmatnya semangkok baso yang penting kataku. Dan nikmatnya kebersamaan kami siang ini.

kisah seorang santriwati Daar el Qolam “Mariatul kibtiyah

terima kasih sudah mau baca, jangan lupa komentar yah !!!