Depresi Murid X.A

” Hua…” salah satu murid X.A menguap karena rasa kantuk yang amat sangat.

” Tidur yuk, tidur…” kata kami serempak.

Hari kamis memang hari yang membosankan, capek dech rasanya. Ah…! pokoknya gak enak dech. Apalagi kalo udah ketemu pelajaran yang gak mengasyikan, batinku dalam hati.

###

Semilir angin yang masuk melalui celah-celah ventilasi memanjakan mataku hingga tertutup rapat. Gorden di jendela pun ditutup hingga ruangan gelap gulita. Karena memang biasanya pelajaran Fisika belajar menggunakan fasilitas LCD dan laptop, jadi agar pelajaran terlihat lebih jelas, gorden harus tertutup rapat.

Guru fisika, Pak Ismu, memasuki kelas dengan langkah semangat 45. Berbanding terbalik dengan keadaan kelasku, murid X.A, tak ada diantara mereka yang tak merasakan kantuk dan malas untuk memulai pelajaran.

” Ya, sekarang ambil laptopnya!” Perintah Pak Ismu menyuruh murid bernama Mutho mengambil laptop.

” Maaf, Pak! Laptop saya sedang di-install.” kata Mutho jujur.

Tapi beliau tetap kekeuh untuk belajar menggunakan laptop. Tak ada satu pun dari kami mengindahkan keinginan guruku ini. Kami asyik dengan urusan kami masing-masing tanpa dapat melihat situasi guruku saat itu.

Tampak Beliau mulai membaca absensi murid. Suasana saat itu, kuyakin yang membuat guru fisikaku geram. Banyak murid yang mengobrol, bercanda, tidur dan ada juga yang membaca, namun entah apa yang dibacanya.

Tiba-tiba…

” Buuk!!” Pak Ismu memukul meja.

Kami terkejut. Murid yang sedang tidur, bangun karenanya. Murid yang sedang mengobrol dan bercanda pun seketika mati kutu. Tak terkecuali aku, jantungku seakan berhenti sesaat. Kaget tak kepalang.

” Kalian tau!”Saya sudah membaca absen setengah tapi kalian bercanda, mengobrol, tidur. Memang di sini yang punya laptop cuma satu orang? Saya sudah berusaha untuk masuk kelas dengan semangat, tapi kalian tidur, bercanda, ngobrol. Dasar goblok!!” bentaknya sambil melempar tempat spidol ke tempat duduk paling belakang.

” Kamu malah tidur, mau nagapain kamu ke sini, hah??” bentaknya kepada Renaldo sambil menjewer telinganya dan mencubit dadanya.

Lalu Pak Ismu berjalan ke depan kelas dan menendang meja.

” Kalian gak usah sok ngatur saya dech! Harusnya saya yang mengatur kalian” katanya sambil menatap tajam ke arah Mutho dan Atul. Sontak saja Mutho dan Atul yang merasa amarah Pak Ismu ditujukan pada diri mereka, kaku tak dapat berkutik. Mukanya memerah persis kepiting rebus. Kesal, malu bercampur aduk ketika itu.

    Sambil tak beranjak, Beliau mengalihkan tatapannya, ke arah Sri dan Istiq. Kedua temanku langsung tertunduk hingga muka mereka hampir menyentuh meja.

” Kalian mestinya bersyukur! Saya sudah membuatkan meteri “Alat Optik” menggunakan slide show. Coba anak Darqo 1, guru-guru yang mengajar di sana meng-copy slide show yang sudah saya buat. Kalian pikir membuat slide show ini mudah seperti membalikan tangan:” bentaknya sambil menggulung kertas dan melempar ke arah Leni yang setengah tidur hingga membuat Leni terperangah.

” Kalo kalian mau berantem. Ayo saya tantang kalian di belakang rumah saya, pasti saya yang menang!!” sambil mengambil sobekan kertas lagi dan melemparnya sekali lagi ke muka Leni. Kali ini Leni bener-bener terperangah , aksi Pak Ismu memang jitu. Akhirnya mata Leni dapat melotot.Tak lupa salah satu cowok yang kena korban adalah Kresno, rambutnya diacak-acak oleh Pak Ismu hingga Kresno pun tersadar dari rasa kantuknya.

Sebenarnya aku ingin tertawa melihat kondisi kelasku saat itu. Tak ada yang terlewatkan oleh guru Fisikaku saat itu. Semua kena damprat, kena semprot. Hingga seisi kelasku duduk dengan mata melotot, tak ada lagi rasa kantuk. Apalagi kalau mendengar perkataan Pak Ismu tadi, habis masa orang marah-marah ngomong kaya gitu mana sampai nantangin di belakang rumah segala, lucu kan?

Satu jam berlalu, suasana berubah seketika dengan merdunya sang dewa penyelamat kami berbunyi.

Teeeeet…

Bel pun berbunyi. Akhirnya Pak Ismu meninggalkan kelas tanpa salam.

Di Luar Kelas

” Marah sih marah, tapi gak gitu-gitu juga kali” kata salah satu temanku sehabis keuar dari kelas.

” Sudah Atul, jangan menangis”…

” Iya Tul”…

” Apaan sih, yang tidur dan berisik kan bukan aku? Kenapa aku yang kena marah habis-habisan? kesal Atul.

Hari itu, bad day untuk kami semua. Gimana tidak? Banyak diantara kami yang menjadi korban kemarahan Pak Ismu. Tapi, itupun karena ulah kami. Dan kejadian itu pun yang menjadikan murid X.A trauma untuk bertemu dengan pelajaran Pak Ismu, Fisika.

Beberapa minggu berlalu, akhirnya keadaan mulai membaik. Setelah banyak murid yang menyadari akan kesalahannya kemarin. Maafkan kami, Pak Ismu. Kami siap kembali belajar…

    Kisah seorang santriwati Daar el Qolam “Ainan”

    Terima Kasih telah berkunjung

    Silakan tinggalkan komentar jika ada KRITIK & SARAN !!! :p

Iklan